Home » Gerakan dari Kebun ke Meja Makan : Sistem Pangan Berkelanjutan
PasarMIKRO - Sistem Pangan Lokal

Gerakan dari Kebun ke Meja Makan: Mendukung Sistem Pangan Lokal dan Berkelanjutan

Kami akan mengulas bagaimana gerakan dari kebun ke meja makan dapat mendukung sistem pangan lokal dan berkelanjutan.

Produksi padi di Indonesia selama satu dekade ini cenderung menurun. Mengutip dari databoks.id, 

“Mulai 2018 produksi padi anjlok menjadi 59,02 juta ton GKG, dan kembali menurun pada 2019 menjadi 54,6 juta ton GKG. Pada 2020 produksinya naik tipis menjadi 54,64 juta GKG, tapi turun lagi menjadi 54,41 juta ton GKG pada 2021. Teranyar, produksi padi pada 2022 mencapai 54,74 juta ton GKG. Capaian ini naik tipis dibanding tahun sebelumnya, tapi jauh lebih rendah dibanding sedekade lalu seperti terlihat pada grafik.”

Dengan menurunnya produksi padi, apakah Indonesia mampu menangani permasalahan krisis pangan global? Di artikel ini, kami akan mengulas bagaimana gerakan dari kebun ke meja makan dapat mendukung sistem pangan lokal dan berkelanjutan.

Permasalahan Krisis Pangan Global

Indonesia harus mulai melakukan antisipasi ancaman krisis global. Melansir dari lemhannas, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Oktober 2022 menyatakan bahwa jumlah orang yang rawan pangan meningkat 2 kali lipat dalam dua tahun. Bahkan, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 3,2% di tahun 2022 dan 2,9% di tahun 2023.

Indonesia telah menyiapkan berbagai strategi di antaranya menjaga produktivitas beras agar tetap swasembada, menyiapkan bahan baku pangan dan substitusi beras, serta gerakan dari kebun ke meja makan. 

Untuk menjaga produktivitas beras agar tetap swasembada, Pemerintah mendorong petani untuk menggunakan praktik pertanian modern dan teknologi yang lebih efisien, seperti varietas unggul, pemupukan yang tepat, penggunaan benih berkualitas, dan pengolahan lahan yang baik.

Selain itu, pemerintah juga menetapkan enam komoditas karbohidrat untuk potensi cadangan pangan Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis pangan. Melansir dari Ditjenbun Pertanian, komoditas karbohidrat itu di antaranya pisang, kentang, talas, ubi kayu, jagung, dan sagu. 

Lalu bagaimana dengan gerakan dari kebun ke meja makan yang bisa mendukung sistem pangan lokal dan berkelanjutan? Yuk lanjutkan baca artikel ini.

Apa itu Gerakan dari Kebun ke Meja Makan?

Gerakan dari kebun ke meja makan adalah berbagai upaya dan inisiatif yang dilakukan oleh individu, kelompok masyarakat, pemerintah, organisasi non-pemerintah (NGO), dan sektor swasta untuk mempromosikan dan mendukung pangan lokal dan berkelanjutan.

Gerakan dari Kebun ke Meja Makan merujuk pada suatu inisiatif atau pergerakan yang bertujuan untuk memperkuat dan mendukung sistem pangan lokal dengan cara mengurangi jarak antara tempat produksi pangan (seperti kebun, peternakan, dan ladang pertanian) dengan tempat konsumsi pangan (meja makan konsumen). 

Tujuan utama dari gerakan ini adalah untuk mengedepankan pangan yang dihasilkan secara lokal dan berkelanjutan, serta mengurangi ketergantungan pada pangan yang diimpor dari luar. 

Dalam konteks gerakan ini, pendekatan yang diambil adalah dengan memprioritaskan pangan lokal, menggalakkan konsumsi produk-produk pertanian dan peternakan yang ditanam dan diproduksi di wilayah setempat.

4 Kategori Konsep Gerakan dari Kebun ke Meja Makan

Melansir dari ecocaters.com, ada 4 kategori yang berhubungan dengan Gerakan dari Kebun ke Meja Makan, di antaranya:

  1. Proximity

Konsep ini mengacu pada jarak antara bagian-bagian dalam sistem pangan (misalnya, pertanian dan meja makan kamu). Semakin dekat pertanian dengan meja makan dan hidangan kamu, semakin mungkin hubungan terbentuk dalam sistem pangan, seperti hubungan antara petani dan konsumen.

  1. Self-Reliance

Menjelaskan bahwa suatu komunitas mampu memenuhi kebutuhan individu mereka dalam hal produksi pangan. Idealnya, tujuannya adalah agar suatu komunitas mandiri, di mana mereka memproduksi, memproses, dan menjual makanan mereka sendiri. Misalnya, peternak memelihara sapi, daging sapi diproses, dan daging sapi yang telah diproses tersebut dibeli oleh konsumen lokal, lalu dihidangkan di meja makan mereka. Semua proses ini terjadi dalam jarak yang pendek dan menciptakan komunitas pangan.

  1. Food Security

Tujuan dalam sistem pangan komunitas adalah keamanan pangan. Hal ini menunjukkan bahwa individu, rumah tangga, dan komunitas memiliki akses terhadap makanan yang baik.

  1. Sustainability

Konsep berkepanjangan berarti bahwa dalam sistem pangan, bisnis, petani, dan orang-orang memperhatikan generasi yang akan datang. Ini adalah gagasan bahwa lingkungan, hewan, orang, dan komunitas semuanya diperhitungkan dalam setiap langkah perjalanan sistem pangan.

Manfaat Gerakan dari Kebun ke Meja Makan

Gerakan dari Kebun ke Meja Makan atau dalam bahasa Inggris Farm to Table Movement, memiliki manfaat yang signifikan di antaranya:

  1. Keberagaman Bahan Makanan

Mendorong pertumbuhan dan konsumsi bahan makanan yang kurang umum atau tradisional, sehingga dapat mendukung keragaman pangan dan pelestarian varietas lokal.

  1. Transparansi Rantai Pasokan

Mendorong transparansi dalam rantai pasokan makanan, sehingga konsumen dapat mengidentifikasi sumber bahan makanan mereka dengan lebih jelas.

  1. Keamanan Pangan

Memperkuat keamanan pangan dengan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar dan potensi gangguan rantai pasokan global.

  1. Penguatan Ekonomi Lokal

Meningkatnya permintaan terhadap produk lokal dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan dalam komunitas.

  1. Pengurangan Emisi Karbon

Dengan mengurangi jarak pengiriman, gerakan Farm-to-Table membantu mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh transportasi panjang jarak. Hal ini berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim.

  1. Keberlanjutan Pertanian

Mendukung pertanian skala kecil dan berkelanjutan, yang menerapkan praktik-praktik yang lebih ramah lingkungan dan berpotensi lebih tahan terhadap perubahan iklim.

Tantangan Gerakan dari Kebun ke Meja Makan

  1. Musiman dan Keterbatasan Pasokan : Tantangan terbesar adalah ketergantungan pada musim pertanian. Produksi makanan dalam skala lokal sering terbatas oleh musim, yang dapat menyebabkan fluktuasi pasokan.
  2. Biaya Lebih Tinggi : Pertanian organik dan lokal seringkali memerlukan biaya produksi yang lebih tinggi. Sehingga harga jual pun memengaruhi.
  3. Kualitas Variabel : Kualitas produk pertanian lokal bisa bervariasi, terutama jika petani menggunakan metode pertanian yang berbeda-beda.
  4. Persaingan dengan Industri Besar : Industri pertanian besar dengan skala produksi yang besar dan biaya yang lebih rendah dapat menjadi pesaing yang sulit bagi pertanian lokal.
  5. Perubahan Kebiasaan Konsumen : Mendorong konsumen untuk beralih dari makanan impor ke makanan lokal dan berbasis musim bisa sulit karena kebiasaan dan preferensi yang sudah ada.
  6. Keterbatasan Infrastruktur : Beberapa wilayah mungkin memiliki keterbatasan infrastruktur, seperti fasilitas pengolahan dan distribusi, yang dapat membatasi pelaksanaan gerakan Farm-to-Table.

PasarMIKRO mendukung gerakan dari kebun ke meja makan. Dengan aplikasi PasarMIKRO memungkinkan petani untuk secara langsung memasarkan komoditas mereka kepada pedagang secara langsung. Selain itu, PasarMIKRO dapat memberikan petani akses ke informasi pasar, tren permintaan, dan harga. Ini membantu petani mengambil keputusan yang lebih cerdas dalam mengelola produksi mereka.

Apalagi saat ini, PasarMIKRO memiliki fitur baru yaitu LangsungAJA dimana penjual atau pembeli yang sudah terverifikasi dapat tetap bertransaksi dengan bukan pengguna aplikasi melalui WhatsApp. Transaksi berjalan dengan mudah dan tentunya aman! 

Tertarik untuk menggunakan PasarMIKRO, unduh aplikasinya sekarang juga di Google Play Store!

PasarMIKRO - Pertanian Berkelanjutan

PasarMIKRO, Aplikasi Perdagangan untuk Petani, Peternak, Nelayan dan Pedagang Pertama dan No. 1 di Indonesia

Tidak ada waktu yang lebih baik dari sekarang untuk memulai perubahan, bergabunglah dengan komunitas perdagangan tepercaya hanya di PasarMIKRO!

Play Store Badge
Aplikasi Digitalisasi Perdagangan Agrikultur

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Strategi Agribisnis Tetap Berjalan Saat Fluktuasi Harga

Cara yang Harus Dilakukan Nelayan untuk Beradaptasi dengan Perubahan Iklim dan Kondisi Laut

Apa itu Produk Domestik Bruto (PDB)? Berikut Seluk-Beluk Tentang PDB

Mengenal Karakter, Jenis, dan Cara Mengendalikan Gulma