Home » Inilah Cara Agar Petani Garam Mendapatkan Laba yang Besar
PasarMIKRO - Petani Garam

Inilah Cara Agar Petani Garam Mendapatkan Laba yang Besar

Musim kemarau adalah musim yang paling ditunggu oleh petani garam karena hama yang muncul sedikit dan bantuan sinar matahari akan membuat pembuatan garam lebih maksimal.

Petani garam salah satu petani yang diuntungkan dengan adanya fenomena el nino. Dengan adanya fenomena el nino, petani bisa lebih cepat dalam masa panennya dan hasil produksinya pun jauh lebih meningkat. 

Cari tahu bagaimana petani membuat garam , bagaimana petani garam menghitung cara harga jual, sampai bagaimana mereka melakukan penjualan. Yuk cari tahu di artikel ini!

Potensi Komoditas Garam di Indonesia

Ada beberapa jenis garam yaitu garam konsumsi, garam untuk pengasinan atau pengawetan dan garam industri. Garam konsumsi yang biasa kamu temukan di dapur. Sedangkan garam industri tidak dapat langsung dikonsumsi dan dibutuhkan untuk bahan baku kemudian diproses menjadi aneka produksi. Beberapa perusahaan yang membutuhkan garam sebagai bahan baku antara lain:

  • Industri Kimia (Pulp dan Kertas, Tekstil, Sabun dan Detergen, Minyak dan Gas);
  • Aneka Pangan (Mie, bumbu masak, biskuit, gula, kecap, mentega, dan pengalengan ikan);
  • Farmasi (Infus, produksi tablet, pelarut vaksin, sirup, oralit, dan cairan pencuci darah);
  • Pakan Ternak/Ikan;
  • Perminyakan;
  • Water Treatment, dan;
  • Penyamakan Kulit.

Dilansir dari Republika, kebutuhan garam nasional pada 2023 mencapai 4,9 juta ton dengan komposisi terbesar 90,9 persen mayoritas berada di sektor industri manufaktur. Sedangkan produksi garam lokal masih belum optimal dan konsisten. Produksi tertinggi dalam 10 tahun terakhir hanya mencapai 2,9 juta ton. Masih jauh dari kebutuhan yang bisa mencapai 4,5 juta ton per tahun. 

Di Indonesia, Pulau Madura disebut sebagai pulau garam karena mayoritas penduduknya menjadi petani garam. Hal ini didukung dengan kondisi alamnya dimana sekitaran tambak tanahnya tidak dapat ditumbuhi tanaman.

Faktor yang Memengaruhi Produksi Garam

Fenomena el nino membawa dampak baik untuk petani garam, yang awalnya masa panen hanya satu kali dalam sepekan bisa menjadi dua kali dalam sepekan. Pun begitu dengan jumlah produksi yang meningkat sebanyak 50%. 

Jadi, apa saja yang memengaruhi produksi garam?

  1. Air Laut

Mayoritas garam dapur umumnya diperoleh dengan cara menguapkan air laut. Namun, dilansir dari MediaIndonesia, di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah berada jauh dari laut tapi mayoritas sebagai petani garam. Yang mereka lakukan dalam membuat garam adalah menggunakan air sumur yang ditampung di bilahan bambu lalu dijemur sampai beberapa hari dan membentuk kristal.

Unik karena lokasinya yang jauh dari laut bisa menghasilkan air sumur yang asin. Meskipun hasil garamnya lebih putih, halus, dan tidak terlalu asin.

Berbeda dengan garam yang dibuat dari penguapan air laut. Tidak semua air laut, bisa digunakan untuk produksi garam. Air laut yang digunakan harus memenuhi syarat seperti tingkat keasaman air laut, jauh dari muara sungai. Air laut yang diuapkan dengan bantuan angin dan panas matahari pada sebidang tanah yang dibentuk kotak. Agar bisa mengkristal, diperlukan konsentrasi  antara 25 – 29° Be.

  1. Cuaca

Cuaca panas dan angin timur yang cukup kencang membantu memproses percepatan pembuatan garam. Ya, angin dan suhu memengaruhi pembuatan garam, semakin kencang angin yang bertiup membuat penguapan air laut juga semakin cepat. Pun begitu dengan suhu, air laut akan menguap cepat jika udara panas.

Selain angin dan suhu, curah hujan dan periode musim kemarau pun memengaruhi pembuatan garam. Proses penguapan bisa berkurang dan mengakibatkan hasil produksi menurun ketika curah hujan memiliki intensitas yang tinggi. 

Musim kemarau adalah musim yang paling ditunggu oleh petani garam karena hama yang muncul sedikit dan bantuan sinar matahari akan membuat pembuatan garam lebih maksimal.

  1. Tanah

Kualitas tanah juga penting dalam pengeringan garam setelah proses pengambilan air laut atau larutan garam dari tambak. Tanah yang memiliki kemampuan pengeringan yang baik dapat membantu menghasilkan garam dengan kualitas yang baik. Tanah yang bersifat lempung atau tidak dapat mengering dengan baik dapat memperlambat proses pengeringan dan mengurangi kualitas garam.

Metode Pembuatan Garam

Ada dua cara untuk pembuatan garam yaitu cara tradisional dan modern. Melansir dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan, pembuatan garam dengan cara tradisional menggunakan alat-alat yang sederhana. Sedangkan pembuatan garam dengan cara modern memanfaatkan teknologi ulir filter atau Geomembran.

  1. Cara Tradisional
    • Pengambilan Air Laut atau Air Garam : Metode tradisional sering dimulai dengan pengambilan air laut atau air garam dari laut, danau, atau sumber air asin lainnya.
    • Pengendapan : Air garam ini kemudian dialirkan ke tambak garam atau kolam yang terbuat dari tanah liat atau bahan impermeabel lainnya. Air dibiarkan menguap secara alami, dan garam yang terlarut dalam air akan mengendap di dasar tambak.
    • Pengeringan : Setelah sebagian besar air menguap, garam yang telah mengendap akan dibiarkan mengering di bawah sinar matahari. Ini bisa menjadi proses yang cukup lama dan memerlukan pemantauan terus-menerus.
    • Pengumpulan : Setelah garam mengering, itu dikumpulkan dengan alat sederhana seperti sekop atau alat penjemur garam. Garam yang dikumpulkan dapat dipilih untuk menghasilkan berbagai tingkatan kualitas garam.

Metode tradisional ini sering dilakukan secara manual dan memakan waktu. Ini masih digunakan di beberapa daerah, terutama di tempat-tempat dengan sumber daya teknologi terbatas.

  1. Cara Modern

Proses pembuatan garam dengan menggunakan Teknologi Ulir Filter (TUF) Geomembran adalah metode modern yang dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi garam. Langkah-langkah dalam Pembuatan Garam dengan TUF Geomembran:

    • Pengambilan Air Laut atau Air Garam : Proses dimulai dengan mengambil air laut atau air garam dari sumbernya, seperti laut atau danau.
    • Penyaringan Awal : Air yang diambil kemudian disaring secara kasar untuk menghilangkan partikel besar dan kontaminan lainnya. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan saringan atau grating.
    • Proses Pemurnian : Air yang telah disaring kemudian mengalir ke dalam tambak garam yang dilapisi dengan geomembran. Di dalam tambak, air akan mengalami beberapa tahap pemurnian tambahan, seperti pengendapan kimia dan filtrasi, untuk menghilangkan lebih banyak kontaminan dan mineral yang tidak diinginkan.
    • Sistem Pengolahan Air Garam : Air garam yang telah dimurnikan kemudian dialirkan melalui sistem TUF Geomembran. Teknologi ini melibatkan penggunaan membran geomembran yang dirancang khusus yang memiliki struktur seperti ulir atau spiral. Air mengalir melalui membran ini, dan garam terlarut akan terperangkap, sementara air bersih dapat melalui membran dan dikumpulkan.
    • Penguapan : Air garam yang telah melalui TUF Geomembran kemudian dialirkan ke dalam sistem penguapan. Ini bisa berupa tangki-tangki penguapan atau perangkat lain yang memungkinkan pengendalian suhu dan kelembaban untuk memaksimalkan penguapan garam.
    • Kristalisasi : Garam yang terlarut dalam air akan mengkristal saat air menguap. Kristal garam ini kemudian dihilangkan dari larutan dengan proses seperti sentrifugasi atau penyaringan.
    • Pengeringan : Kristal garam yang dihasilkan kemudian dikeringkan lebih lanjut dengan menggunakan mesin pengering yang canggih, yang memungkinkan pengendalian suhu dan kelembaban.
    • Pengemasan dan Distribusi : Garam yang telah diproses ini kemudian dikemas dalam berbagai kemasan untuk distribusi komersial.

Bagaimana Petani Garam dalam Menghitung Laba dan Melakukan Penjualan?

Melansir dari jurnal yang diterbitkan UMM, cara petani garam untuk menghitung keuntungan menggunakan cara yang sederhana. Petani melakukan perhitungan dengan cara harga penjualan dikurangi dengan biaya operasional sehingga didapatkan hasil laba. Laba yang diperoleh dari harga jual dikurangi biaya operasional. Umumnya, petani melakukan perhitungan berdasarkan pengalaman dan pemikiran sendiri tanpa memperhitungkan biaya overhead. 

Setelah memperhitungkan laba, para petani garam pun harus mulai disiplin dengan keuangannya. Mulai dari mencatat pemasukan dan pengeluaran. Sehingga bisa mengetahui laba dan rugi usahanya. 

Untuk mempermudah proses catatan keuangan, petani garam bisa menggunakan aplikasi PasarMIKRO. Dengan fitur ‘Catatan Keuangan’ dari PasarMIKRO, petani garam bisa mencatat uang masuk dan uang keluar. Cukup masukan kategori komoditas, dan nominalnya. Semua catatan bisa dilihat secara langsung. 

Selain itu, aplikasi PasarMIKRO memungkinkan petani garam untuk menjual garam dengan jumlah besar.  Petani garam bisa bertemu dengan para tengkulak terpercaya, yang telah dikurasi terlebih dulu. Sehingga peluang mendapatkan penjualan yang besar pun bisa tercapai! 

Tertarik dengan PasarMIKRO dan ingin mengetahui fitur lainnya? Yuk isi form di bawah ini!

Form Lead Generation - Petani Garam

Atau kamu bisa langsung unduh aplikasi PasarMIKRO di Google Play Store.

PasarMIKRO - Polikultur

PasarMIKRO, Aplikasi Perdagangan untuk Petani, Peternak, Nelayan dan Pedagang Pertama dan No. 1 di Indonesia

Tidak ada waktu yang lebih baik dari sekarang untuk memulai perubahan, bergabunglah dengan komunitas perdagangan terpercaya hanya di PasarMIKRO!

Play Store Badge
Aplikasi Digitalisasi Perdagangan Agrikultur

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tingkatkan Produksi Budidaya Ikan Nila dengan Teknologi Bioflok

Apa itu Produk Domestik Bruto (PDB)? Berikut Seluk-Beluk Tentang PDB

Strategi Bertransaksi Tepercaya dan Aman antara Petani dan Pedagang

Mengelola Pasca Panen : Penanganan, Penyimpanan, dan Pemasaran