
Saat pembeli besar butuh 90 hari untuk melunasi, pengumpul atau koperasi yang sudah membayar petani secara tunai yang menanggung celahnya. Talangin membayar pemasok penuh saat barang diterima.
Seorang pemasok sayur mengirim barang hari Senin. Barangnya sudah terpakai hari Kamis. Tagihannya masih belum dibayar sejak Oktober.
Pola yang jarang disadari
Pola ini terjadi diam-diam di hampir setiap rantai pasok yang tumbuh cepat. Proses pelunasan ada di tangan lembaga terbesar, sementara beban menunggu jatuh ke usaha terkecil: pengumpul, koperasi, pedagang desa yang sudah lebih dulu membayar petani secara tunai.
Harga dari menunggu
Berdasarkan data transaksi dan kredit PasarMIKRO selama bertahun-tahun, kami memperkirakan keterlambatan pembayaran, pinjaman talangan yang mahal, dan sesekali gagal bayar bersama-sama menggerus sekitar 30% pendapatan bersih tahunan petani kecil yang terdampak.
Bagi pedagang, dampaknya bisa lebih berat. Margin sering hanya 3 sampai 4% per transaksi, sementara biaya dana jangka pendek mencapai 3 sampai 5% per bulan. Pemasok yang menunggu 90 hari bukan sekadar kehilangan kesabaran. Mereka kehilangan tiga pembelian berikutnya yang seharusnya bisa mereka biayai.
Celah yang struktural
Semua ini terjadi tanpa ada pihak yang beriktikad buruk. Pembeli besar memang perlu verifikasi dan persetujuan yang benar sebelum mencairkan dana. Celahnya bersifat struktural, dan harus ada yang menanggungnya.
Menurut kami, yang menanggung seharusnya bukan usaha terkecil di rantai pasok.
Cara Talangin menutup celah
Karena itulah kami membangun Talangin: kami membiayai transaksi yang sudah terverifikasi agar pemasok di hulu dibayar 100% saat barang diterima, sementara pembeli melunasi sesuai jadwalnya sendiri.
Jika ini terdengar seperti rantai pasok Anda, mari berdiskusi: hello@pasarmikro.id.
Tag
- Pembiayaan rantai pasok
- Talangin
- UMKM
- Modal kerja


